Total Tayangan Halaman

Senin, 11 Januari 2016

Temu Akbar: Sekedar Merayakan Masa Lalu?

Tahun lalu Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku (selanjutnya disingkat F.Th. UKIM) bersama dengan ikatan Alumni F.Th. yang berbasis di Ambon mencanangkan Kegiatan Temu Raya Alumni Pendidikan Teologi GPM.

Penggunaan istilah Pendidikan Teologi GPM, dan bukan alumni F. Th. UKIM dilatarbelakangi oleh perubahan nama institusi pendidikan Teologi dari masa ke masa (yang sekarang melebur di UKIM sebagai satu Fakultas. Sebelum menjadi bagian dari UKIM, Fakultas Teologi dulunya ialah Sekolah Tinggi Teologi GPM (STT GPM) yang merupakan metamorfosis dari Institut Teologi GPM. Institut ini sendiri sebelumnya ialah sebuah Akademi Theologia. Akademi ini berkembang dari Sekolah Theologia GPM. 

Embrio dari Sekolah Theologia GPM, Akademi Theologia, Institut Theologia GPM, STT-GPM ataupun Fakultas Teologi UKIM ialah STOVIL (School Tot Opleiding van Inlands Leraars) yang telah berdiri sejak tahun 1885 dan hidup selama kurang lebih lima puluh tahun sebelum akhirnya berubah menjadi sebuah Sekolah Teologi milik gereja di Maluku. Keragaman nama institusi inilah menjadi alasan reuni yang akan dilakukan mulai hari ini, Selasa 12 Januari 2016 hingga dua hari ke depan, dinamakan sebagai Temu Raya Alumni Pendidikan Teologi GPM yang akan menjadi wadah perjumpaan bagi seluruh alumni yang tersebar di seantero Maluku, Nusantara, bahkan di luar negeri.

Sejak beberapa hari sebelumnya, media sosial sudah diramaikan dengan berbagai postingan reuni Angkatan sebagai bagian dari suksesi Temu Raya itu. Angkatan tahun 1993, misalnya, telah mensiasati pertemuan pra-reuni. Sejauh amatan di dunia virtual, hal yang sama juga terjadi untuk Angkatan 1992, 1993, 1994, 2002, 2003, dll. Juga GENTA (angkatan 2000) - salah satu angkatan favorit semasa di Talake dulu - sudah memantapkan not untuk berpadu dalam melodi, sebagaimana ciri khas Angkatan ini, untuk menjadikan Temu Raya sebuah lagu yang merdu. Angkatan kami, Triple T-Five (Angkatan 2005) jauh-jauh hari sejak Desember 2015 telah beberapa kali melakukan pertemuan pra-Temu Raya. 

Bahkan, berbagai postingan datang dari berbagai belahan Nusantara mengenai kesiapan menyongsong kegiatan ini. Rombongan Jawa-Bali ialah yang cukup pro-aktif untuk hal ini. Sayang sekali gaung Temu Raya ini kurang terdengar di wilayah Sumatera dan Kalimantan (ladang saya sekarang), mungkin karena faktor minimnya pengorganisasian alumni yang tersebar di dua wilayah ini. Semoga ke depan, ini menjadi perhatian bagi Pengurus Alumni.

Menurut informasi, Temu Raya yang dilakukan menjelang Sidang Sinode GPM ini akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti Seminar, Launcing Buku Penghargaan kepada dosen senior (merupakan kumpulan tulisan yang ditulis oleh beberapa alumni), Temu Tutor, dlsb. Desain bentuk Temu Raya seperti ini tentu baik adanya sehingga perjumpaan itu memiliki nuansa akademis sebagaimana esensi dan ciri alumni dan institusi pendidikan Teologi GPM itu sendiri sebagai institusi akademis.

Dalam konteks ini, satu pertanyaan yang perlu diusung ialah apa sebetulnya yang sedang kita lakukan dengan Temu Raya? Apakah perjumpaan ini sekedar sebuah perayaan dan pengagungan akan masa lalu? Apakah ini hanya kesempatan untuk bernostalgia dan mengingat setiap rangkaian masa sewaktu di Talake, tanah dimana UKIM ada sekarang? Ataukah justeru melampaui semua itu? Beta rasa ini pertanyaan-pertanyaan penting yang harus disadari oleh setiap alumni bahkan oleh penggagas dan panitia pelaksana. Tanpa mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, Temu Raya ini sekedar akan menjadi "A History of the Historical Recollection" (sebuah Sejarah dari Pengenangan Sejarah) . Dengan begitu, maka dimensi historis yang sedang ditekankan, sehingga tidak ada ruang pada dimensi futuris. Artinya bahwa, perjumpaan seperti ini tidak punya masa depan. 

Sebaliknya, pertanyaan yang menggugah substansi Reuni ini akan melahirkan "kesadaran historis", tapi sekaligus juga "kesadaran futuris" - yakni sebuah kesadaran tentang masa depan pendidikan Teologi di Maluku, bahkan juga tentang masa depan peran dan kontribusi Alumni dalam gereja maupun dunia sekuler melalui multi-peran yang dimiliki sebagai bagian integral dari mewujudkan misi, "Nos Autem Praedicamus Christum Crucifixum" (Memberitakan Kristus Yang Tersalib).

Dua dimensi inilah - Historis dan Futuris - yang kiranya menjadi substansi dari Temu Raya Alumni Pendidikan Teologi GPM. Pada satu sisi, perayaan Sejarah memberi ruang bagi "cerita-cerita masa lalu" tentang suka-duka perjuangan menempuh studi Teologi, manisnya relasi "Ade-Kaka", warna-warni karakteristik dosen, pengalaman Kamal dan berjemaat, dan lain sebagainya, termasuk cerita-cerita tentang kepolosan dan keluguan yang menggelitik. Pada intinya, penuturan kembali cerita-cerita masa lalu itu ialah dalam rangka meneguhkan identitas sebagai satu keluarga besar Alumni Pendidikan Teologi GPM dan membangun cinta tentang almamater tercinta. Di sisi yang lain, cerita-cerita masa lalu yang dituturkan di masa sekarang haruslah menjadi modal untuk memikirkan tentang cerita lain, yakni cerita masa depan apa yang harus direncanakan melalui momentum Temu Raya ini.

Selain itu, Temu Raya ini haruslah juga menjadi momentum evaluasi tentang sejauh mana "Teologi Talake" berhasil dihidupi, relevan, dan kontekstual di panggung gereja dan publik sebagai medan panggilan Alumni Pendidikan Teologi GPM. Hal ini tentu menjadi refleksi personal yang kemudian bisa dicakapkan di ruang kolektif sebagai kontribusi demi perbaikan pendidikan Teologi di Maluku. Sebab salah satu hakikat reuni ialah berkontribusi secara kritis dan konstruktif bagi almamater, dalam hal ini Fakultas Teologi UKIM.

Dalam amatan beta, salah satu tantangan yang dihadapi oleh Alumni Pendidikan Teologi GPM sekarang ini ialah hibriditas atau multi-identitas yang dimiliki oleh para alumni. Hibritas atau multi-identitas ini meliputi status profesi (pendeta dan non-pendeta), belum lagi pendeta GPM dan bukan pendeta GPM, serta hibritas pendidikan Teologi lanjutan yang ditempuh di luar UKIM sehingga lahirlah blok-blok tertentu. Hibriditas atau multi-identitas ini sering menimbulkan "persinggungan" karena kegagalan untuk melihat semua itu sebagai sumber daya demi membangun gereja dan masyarakat Maluku, serta Indonesia sebagai konteks makro berteologi. 

Kendati demikian, Temu Raya ini setidaknya menjadi "reminder" bahwa kita semua masih disatu-padukan dalam sebuah identitas dasar sebagai "mantan penghuni Talake". Kesadaran akan identitas ini kiranya dapat mengeliminir potensi ketersinggungan atau konflik yang dapat memecah-belah relasi Ade-Kaka, sehingga semua potensi disinergikan untuk membangun gereja tercinta - GPM - dan gereja-gereja lainnya sebagai ladang pengabdian para alumni serta membangun Maluku, Tanah Raja-raja, dan bangsa Indonesia.

Satu catatan kritis lain yang perlu dikemukakan juga ialah Temu Ade-Kaka ini diharapkan mampu memutuskan dosa kategori Biner Senior-Junior yang berdampak dalam banyak hal. Mengenai penyebutan, adalah lebih baik jika relasi itu dibahasakan sebagai relasi Ade-Kaka dan bukan relasi Senior-Junior (beta kira ini sudah mulai jarang dipakai). Hal ini karena kategori Senior-Junior sarat dengan hegemoni dan politik dominasi. Hegemoni ini akhirnya memenangkan "Yang dituakan" sehingga yang dimudakan diposisikan sebagai yang tersubordinasi. Dari perspektif Critical Discourse Analysis Norman Fairclough, pemilihan kata junior dan atau senior bisa memiliki tiga tujuan: mengkonstruksi identitas, mengatur posisi subjek, dan transfer wacana mengenai subjek.

Sebaliknya, penyebutan Ade-Kaka menandakan bahwa relasi itu dirayakan dalam suasana kekeluargaaan - "laeng sayang laeng". Dalam relasi kekeluargaan inilah, kompetensi dan profesionalitas dijunjung dan dimuliakan, sehingga siapa saja - Ade ataupun Kaka - diberi ruang dan peluang yang sama. Yang terjadi selama ini ialah deifikasi senioritas (yang senior seolah-olah dituhankan), sehingga akses terhadap kesempatan acapkali terbuka hanya kepada yang diseniorkan. Temu Raya ini, sekali lagi, harus dapat membungkam dosa ini dan membangun kesadaran tentang egalitas, proporsionalitas, dan profesionalitas.

Hal terakhir yang perlu dilihat dan diapresiasi dari Temu Raya ini ialah bahwa wadah ini menunjukkan betapa Teologi GPM telah merambah ke seantero Nusantara dan juga di luar negeri, baik di birokrasi gereja maupun non-gereja. Tingkat penyebaran para alumni yang hampir berada di seluruh wilayah Indonesia menjadi bukti tersendiri bahwa produk pendidikan Teologi Maluku laku di pasar kerja pada aras nasional bahkan internasional.

Sekalipun demikian, Fakultas Teologi UKIM harus secara terus menerus meningkatkan kualitas pendidikan Teologi melalui peningkatan kualitas tenaga pengajar, updating terhadap informasi, penggunaan teknologi dalam pembelajaran, pembangunan infrastruktur yang memadai, serta networking atau penjaringan mitra. Dalam arus kompetisi yang sangat menantang, Fakultas Teologi UKIM akan bisa bersaing jika hal-hal seperti tadi diupayakan. Di sinilah peranan Alumni sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek. 

Selamat Berjumpa Ade deng Kaka. Selamat Mengenang Masa Lalu dan Meramu Masa Depan. 

Bangga menjadi bagian dari F. Th. UKIM. Salam hangat dari STAKPN Tarutung, Sumatera Utara.

Nos Autem Praedicamus Christum Crucifixum.

Nelson Kalay, 
Triple T-Five.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar