Total Tayangan Halaman

Senin, 30 November 2015

Gereja dan HIV/AIDS

*) Untuk mengenang seorang sahabat yang meninggal karena HIV/AIDS. 

Beberapa waktu lalu seorang aktor terkenal, Charlie Sheen dalam siaran TV di USA mengatakan secara terbuka bahwa dia adalah penderita HIV/AIDS. Pengakuan ini mengagetkan publik dan menjadi target media massa. Dari koran yang saya baca beberapa hari lalu di Malaysia, disebutkan bahwa pengakuan ini muncul setelah puluhan tahun ia hidup dengan pergulatan identitasnya menjadi ODHA (sebutan untuk penderita HIV/AIDS). Pergulatan itu selalu diwarnai dengan kebohongan terhadap diri sendiri sebagaimana juga diskriminasi dan ketidakadilan dari banyak koleganya. Sheen telah menghabiskan jutaan Dolar hanya untuk menyembunyikan status medisnya itu, sebab ada banyak kawannya yang mengambil kesempatan dalam kesempitan yang dialaminya. Akhirnya, Sheen memutuskan untuk "go public". 

Langkah Sheen tentu berani. Resiko pandangan miring dan cibiran publik disadarinya sebagai hal yang tak terhindarkan. Kita bisa membayangkan bagaimana ia melewati pergulatan hebat dengan batinnya untuk sebelum memutuskan untuk tampil menjadi dirinya sendiri - melepaskan bayang-bayang ketidakadilan yang mungkin memicu ketidakadilan baru. Tindakan Sheen setidaknya menunjukkan bahwa ia adalah pahlawan bagi dirinya sendiri, tetapi juga semangat bagi para koleganya yang menderita hal yang sama.

Di Indonesia, terutama di Ambon, ada banyak kawan-kawan yang hidupnya sama seperti Sheen, perbedaannya ialah mereka tidak berani menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Mereka tidak berani untuk membela apa yang menjadi hak mereka. Mereka tidak berani untuk memperjuangkan kemanusiaan mereka. Ada memang komunitas-komunitas Peduli HIV/AIDS yang gencar memperjuangkan hak mereka. Di media beberapa hari lalu dan dari Facebook kawan-kawan saya, saya menyaksikan perjuangan seorang ODHA yang memilih berjalan kaki se-Nusantara untuk melawan stigma yang selama ini dibentuk di pikiran kolektif masyarakat kita. Kendati begitu, ini hanya sekian dari jutaan kebungkaman dan keheningan yang tersimpan rapi di relung hati. 

Mengapa? Lagi-lagi ini soal ketidakadilan! Terlalu lama stigmatisasi itu memenderitakan kelompok ini. Mereka dicibir, dipandang sebelah mata, hak-haknya dikebiri, lalu ditolak dan diasingkan - penolakan dan pengasingan adalah kemiskinan manusia yang paling parah. Mereka miskin. Lemah. Sudah jatuh dan tertimpa tangga pula. Menyedihkan.

Lantas, siapa yang bisa jadi pembela mereka? Masyarakat, dan Pemerintah pun, terkadang menyisakan pesimisme. Terlalu sulit menerobos bangunan stigma di masyarakat yang menganggap saudara-saudari kita ini sebagai pendosa hebat - sebab HIV/AIDS dianggap sebagai risiko "dosa besar". Padahal, secara teologis tidak ada yang namanya dosa besar atau dosa kecil. Perbuatan yang menyimpang tetaplah dosa. Bahkan, HIV/AIDS belum tentu adalah buah dari kedosaan seseorang. Seorang Professor Teologi dari Afrika yang pernah mengunjungi kampus kami di UKDW Yogyakarta dan berbicara mengenai HIV/AIDS (tahun 2011) pernah berkata; "HIV/AIDS does not always relate to Sin". Saya setuju! Banyak ODHA terlahir dengan virus ini, banyak yang menjadi korban transfusi darah yang tidak steril, tapi memang banyak juga yang menderita karena pilihan hidup sendiri. Sekalipun demikian, mereka tidak pantas diberlakukan tidak adil!

Bagaimana dengan gereja? Saya masih sangsi apakah gereja-gereja kita, atau juga komunitas-komunitas religius yang lain - masih dapat menjadi tempat saudara-saudari kita ini mencari harapan? Apakah di gereja (sebagaimana juga di Masjid) masih ada "space" bagi komunitas ini? Semoga saja saya salah. 

Gereja-gereja harusnya menjadi tempat pelarian sesama saudara ini. Gereja harus tampil menawarkan opsi lain: Optimisme! Gereja harus bisa berdiri bersama mereka memperjuangkan keadilan dan melawan diskriminasi dan stigmatisasi. Kalau ODHA ialah orang miskin, maka gereja seperti kata Prof. Banawiratma harus dapat menjadi "option for the poor" atau "option for the PLWHIV" (People Living With HIV). Pilihan untuk berdiri bersama orang-orang yang menderita harus menjadi pilihan bergereja - yakni suatu pilihan dan perjuangan profetis. Apa artinya bergereja jika gereja ikut memenderitakan atau setidaknya bungkam dengan penderitaan ini atas pandangan bahwa zona ini terlalu kelam untuk gereja. 

Jika gereja tidak menjadi "ekklesia" bagi ODHA, maka gereja bukanlah gereja Tuhan Yesus Kristus! Menjadi gereja bagi ODHA tidak hanya berarti memberi "bangku" bagi mereka beribadah atau pula memberi mereka "beras dan gula" saat kunjungan ke rumah sakit, tapi menjadi gereja yang mengatakan TIDAK pada DISKRIMINASI. Menjadi gereja yang nyaman dan damai bagi semua orang. Menjadi gereja yang menolak "Penolakan" pada sesama. 

Selamat menjadi gereja bagi semua orang. Selamat Hari HIV/AIDS Se-dunia.

"For PLHIV just lost their immunity, but not humanity". 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar