Total Tayangan Halaman

Selasa, 19 Januari 2016

Puisi Sebagai Media Berteologi


Kemarin siang seorang teman di Facebook memposting sebuah puisi ke beranda akunnya. Puisi itu tanpa judul. Mungkin saja teman-teman sastrawan bisa mendebatkan ketiadaan judul puisi ini. Bagi saya, itu tidak penting! Yang penting ialah bagaimana suatu puisi berhasil memotret realitas sosial dengan cermat dan menyampaikannya melalui bahasa yang dikonstruksikan secara menarik untuk menggaet atensi publik. Puisi ini berhasil menarik atensi saya (sebagaimana juga mengundang ratusan 'likers') dan menjadi alasan saya menerbitkan catatan kecil ini.

Puisi "tanpa judul" itu sengaja saya repost melalui akun Facebook saya segera sesudah diterbitkan. Tidak salah jika saya merepetisi kembali puisi yang ditulis oleh Bung Weslly Johannes itu.

"Bila aku memandang Maluku dari puncak gunung Sinai, maka di sana ada saudara tiri yang saling bermusuhan. 
Namun, bila ku pandang dari Nunusaku, puncak Binaiya atau Gamalama, maka di pulau-pulau yang semula sunyi, kulihat Ismail dan Ishak terlahir kembali sebagai saudara kembar dari rahim Siwalima.
Satu tali pusar.  Satu darah."

*) Sumber: Akun Facebook Weslly Johannes.

Bung Wes, begitu sapaan akrab Sang Penyair, ialah pendeta muda di Gereja Protestan Maluku. Ia juga ialah senior kami dulu di Fakultas Teologi UKIM Ambon yang sempat menjadi kawan sekamar saat mengikuti Program Laboratorium Sosial dan Pengalaman Berteologi (LSPB), yang di kampus sekuler biasa disebut PKL atau KKN. Dalam hibriditas identitas yang bersangkutan inilah, maka saya senang menyebutnya sebagai "teolog sastra". Istilah ini digunakan untuk menyebut orang yang berteologi melalui sastra. 

Secara teologis, sebetulnya tidak ada rumpun Teologi Sastra. Hanya ada empat framework atau cabang ilmu Teologi; Historika yang menelusur sejarah gereja ataupun sejarah perkembangan pemikiran Teologi, Biblika yang memfokuskan pada upaya mengkaji teks-teks Alkitab, Sistematika yang berurusan dengan dogmatika atau ajaran gereja, dan  Praktika yang mengkaji segala hal yang berkaitan dengan praksis bergereja.

Jika dibawa ke ranah empat kategori ini, maka Teologi Praktika mungkin yang paling bisa mengakomodir Teologi Sastra. Mengapa? Jika Homiletika atau khotbah bisa dikategorikan sebagai bagian dari rumpun teologi Praktika, maka hal demikian pun bisa terjadi pada sastra. Sastra bisa digunakan sebagai "alat" atau "media" untuk menyampaikan pesan tentang Allah kepada khalayak, sama seperti khotbah digunakan di mimbar-mimbar gereja. Bahkan, dalam Alkitab sendiri cerita-cerita tentang bagaimana Allah berelasi dengan manusia dan alam diungkapkan melalui sastra. Misalnya, gagasan tentang Inkarnasi - Firman yang menjadi Daging - dalam Injil Yohanes 1 dikonstruk dalam bentuk himne atau puisi yang diambil dari lingkungan Helenistik. Begitu juga dalam Mazmur yang sarat dengan puisi.  Selebihnya, Alkitab dalam pandangan teori Naratif pada hakikatnya merupakan sebuah karya sastra.  

Dalam konteks dunia yang semakin berubah, khotbah tidak lagi bisa dipertahankan sebagai satu-satunya media untuk menyampaikan Firman. Firman Allah dan pesan profetik lainnya bisa disampaikan melalui berbagai media , seperti sastra, seni, film, status Facebook, dan lain-lain. Bahkan, bisa jadi pesan yang disampaikan melalui sastra memiliki nuansa profetik yang kuat, lebih teologis, lebih original, dan lebih empatik dengan isu-isu yang berkaitan dengan keadilan dan perdamaian, ketimbang khotbah - yang dalam amatan saya - sering pula dijadikan sebagai alat untuk mengkonstruksi identitas atau membangun citra diri pengkhotbah. Artinya, berita tentang Allah tidak lagi menjadi kerugma yang diberitakan melalui khotbah, tapi pengkhotbah. Belum lagi persoalan khotbah yang gagal mendialogkan teks dengan konteks secara kritis. 

Berdasarkan pada payung Teologi Praktika inilah, saya pikir penggunaan istilah Teologi Sastra sebetulnya bisa digunakan. Semoga saja ke depan ada upaya-upaya teoritis, analisis, dan sistematis untuk mengkaji Teologi ini. 

Kembali pada persoalan Puisi Tanpa Judul. Melalui puisi ini Wessly Johannes berhasil berteologi secara kontekstual. Teologi Kontekstual ialah Teologi yang menempatkan konteks sebagai keprihatinan utama. Menurut hemat saya, tema kontekstual yang menjadi jiwa dari puisi ini berkaitan dengan isu hubungan dan perdamaian antar-agama di Maluku. Puisi Johannes ini merangsang saya untuk menginterpretasikan beberapa hal sehubungan dengan tema Teologi Agama-agama di dalamnya.

Puisi Johannes mengandung kritik  yang tajam kepada Islam dan Kristen. Pemilihan kata atau diksi "Sinai" di sini, bagi saya, digunakan untuk merujuk pada "tempat" dimana kedua tradisi ini berasal, tetapi juga sekaligus posisi dan hubungan keduanya sebagai agama Abrahamik (berlatar pada tradisi Abraham atau Ibrahim).

Sejak era perang Salib kedua tradisi ini  telah mengalami ketegangan, seumpama "anak tiri" yang sering bersikut-sikutan. Ketegangan ini dihidupi berabad-abad lamanya dan sering memuncak dalam konflik dan kekerasan, sebagaimana yang pecah di Maluku pada 19 Januari 1999 atau 17 tahun yang silam terhitung mundur dari kemarin ini. Sebagai dua tradisi yang berbeda, tapi berdasar pada akar yang sama keduanya sering memperebutkan hegemoni dan kekuasaan. Pada konteks inilah, Johannes "menampar" keduanya dengan menggunakan tangan puisi. Jika Paul Knitter, teolog Agama-agama yang termasyur itu melalui karyanya "Menggugat Arogansi Kekristenan", maka Johannes berhasil menggugat arogansi keduanya, "Menggugat Arogansi Kekristenan dan Islam".

Arogansi agama-agama muncul karena keyakinan bahwa tradisinya yang paling benar, agamanya ialah agama sahih, dan yang lain tidak benar dan tidak sahih. Padahal, kebenaran atau kesahihan itu sendiri bukanlah sesuatu yang objektif, melainkan subjektif sebab dibentuk oleh standar-standar tertentu sesuai dengan konteks dan kebutuhannya. Dalam sejarah gereja, kita kenal adanya deklarasi "extra-ecclesia nulla salus" sebagai produk gereja yang artinya, "di luar gereja tidak ada keselamatan". Deklarasi ini tentu sangat provokatif pada zaman itu dan saya yakin akan lebih provokatif (dan problematik) jika digaungkan sekarang ini dalam konteks dunia yang semakin multi-religius. Kecendrungan triumfalistik ini juga bisa ditemukan dalam tradisi Islam, yakni pandangan bahwa selain Islam agama lain dianggap kafir dan harus dibasmi. Tidak heran jika terorisme banyak muncul karena ideologi (bukan teologi) seperti ini. Realitas ini dipotret oleh Johannes dan mendeskripsikannya dengan kalimat "saudara tiri yang saling bermusuhan".

Dalam konteks Maluku, Johannes sepertinya pesimis melihat peran kedua agama ini sebagai "agent of Peace" - media pembawa damai. Mungkin interpretasi saya yang keliru, tetapi penggalan bait pertama merupakan indikasi eksplisit tentang kegagalan kedua agama untuk memainkan peran tadi. 

Jika interpretasi saya benar, maka nampaknya saya perlu mengajukan satu catatan kritis, bahwa kendatipun Islam dan Kristen selalu berada dalam ketegangan akibat arogansi tadi, hal itu tidaklah berarti bahwa agama tidak bisa menjanjikan sesuatu bagi perdamaian bumi. Secara intrinsik, agama masih memiliki spirit perdamaian di dalam dirinya; kekristenan masih terus berjuang untuk mewujudkan "syalom" atau "eirene" sebagaimana Islam berjuang untuk menebarkan "assalamu'alaikum", sebuah pernyataan damai kepada sesama.

Hal kontekstual lain yang menarik dari puisi Johannes ialah ketika ia mengatakan, "bila ku pandang dari Nunusaku, puncak Binaiya atau Gamalama, maka di pulau-pulau yang semula sunyi, kulihat Ismail dan Ishak terlahir kembali sebagai saudara kembar dari rahim Siwalima. Satu tali pusar.  Satu darah." Saya pikir ini klimaks dari puisi tanpa judul ini, yang harus diakui "double-meaning" (sarat makna. 

Namun, penggunaan simbol-simbol kemalukuan dalam puisi ini setidaknya hendak menegaskan bahwa "agama bisa ditransformasikan oleh budaya". Ini berarti, adagium bahwa iman Kristen mentransformasi budaya bisa dibantah. Bukan hanya agama yang "mengkonfrontasi" budaya, tapi budaya pun bisa "mengkonfrontasi" agama. Di sini terjadi konfrontasi silang atau dalam bahasa Martin Brinkmann disebut "two-sided transformation" (transformasi dua arah).

Nunusaku, Binaiya, dan Gamalama ialah simbol-simbol sakral di Maluku yang merupakan nama-nama tempat, dalam hal ini gunung. Jika seluruh keberadaan orang beragama di Maluku dipandang dari titik ini, atau dari sudut pandang kemalukuan, maka Islam bukan lagi menjadi saudara tiri bagi kekristenan, tetapi sebaliknya hanya sebagai "sesama saudara". Istilah "sesama saudara" atau dalam Alkitab disebut "sesama manusia" digunakan untuk merujuk pada hubungan yang melampaui sekedar hubungan biologis atau etnis, melainkan hubungan sebagai orang-orang yang saling solider atas atas prinsip kemanusiaan. 

Dengan memandang dua tradisi ini dalam konteks budaya Maluku, negeri yang pernah bercokol karena arogansi, maka keduanya berubah menjadi dua kekuatan besar yang ditopang dengan kekuatan kultural yang digunakan untuk mewujudkan masyarakat damai. 

Dua hal inilah yang bisa saya interpretasi dari puisi Tanpa Judul ini. Daya estetis, profetis, dan filosofis yang kuat dalam puisi ini tentu mengundang berbagai interpretasi yang beragam dari banyak perspektif. Silahkan saja. 

Akhirnya, kami akan terus menunggu Teologi yang dikemas di dalam puisi dan bentuk sastra lainnya. Senang melihat Maluku sudah punya banyak Teolog Sastra, di samping Weslly Johannes, Wirol Hairissa, Ecko Poceratu, dan sederetan nama lainnya. 

Terus berkarya, sobat!

Salam dari Tanah Batak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar