Total Tayangan Halaman

Selasa, 09 Agustus 2016

Sedikit Cerita Dari Yunani

Yunani ialah salah satu tempat paling historis dan biblikal yang pernah ada. Di sinilah peradaban, ilmu, dan filosofi modern tumbuh dan berkembang lalu menyebar ke seanteoro dunia. Singkatnya, Yunani ialah rumah bagi para bapa gereja dan filsuf sekelas Plato, Aristoteles, Socrates, dll. Kira-kira begitulah pengetahuan saya tentang negeri ini yang hanya sekedar dipengaruhi oleh frame masa lalu. Lantas, bagaimana dengan masa kininya negeri ini? Pertanyaan ini membawa saya pada percakapan singkat dengan Sotirious Boukis (kanan), kawan baru yang diperjumpakan melalui Konferensi YLG 2016 yang tengah berlangsung saat ini. Sotirious adalah seorang pendeta dari Greece Evangelical Church (Gereja Evangelikal Yunani) yang berbasis di Kota Tesalonika, salah satu kota tua yang direkam dalam catatan Alkitab. 

Perjumpaan satu jam itu menyuguhkan beragam informasi tentang situasi politik, gereja, dan perubahan situasi, termasuk linguistik Yunani masa kini yang ternyata sudah lima puluh persen berbeda dengan Yunani Koine yang dipakai sebagai bahasa Alkitab Perjanjian Baru. 

Sebagai bagian dari dunia barat, Yunani tidak bisa membebaskan diri dari sekularisasi yang menerobos ke segala lini, termasuk gereja. Sekalipun secara statistik komposisi demografis Yunani terdiri dari mayoritas Kristen Ortodoks (k.l. 90%) dan sebagian kecil jumlah Protestantisme, namun minat terhadap gereja nampaknya menjadi isu penting untuk digumuli. Ia melihat bahwa hal ini diperparah pasca terjadinya krisis yang dialami dalam beberapa tahun terakhir ini, sehingga sumber daya gereja, terutama dari kalangan muda profesional, memilih bermigrasi ke wilayah Eropa lainnya yang lebih menjanjikan dalam hal ekonomi. Menurutnya, krisis yang berkepenjangan ini tidak hanya membawa arus migrasi ke luar tapi juga menimbulkan persoalan sosial dan ekonomi yang masif, seperti meningkatnya angka kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial yang jauh. Kondisi ini menimbulkan frustrasi publik, baik warga sipil maupun Pemerintah yang sangat bergantung pada bantuan negara-negara Eropa lainnya. Situasi ini kurang lebih pernah dialami Indonesia ketika terjadi krisis ekonomi besar-besaran tahun 1998.

Sebagai pendeta yang secara khusus berurusan langsung dengan pemuda (Youth Pastor), Sotirious merasa bahwa ini adalah ancaman tetapi sekaligus juga adalah kesempatan besar bagi gereja untuk benar-benar menjadi gereja (being Church) di atas tanah dimana gereja itu sendiri tumbuh. 

Dalam hal pluralitas denominasional (intrareligius), Sotirius mengatakan bahwa realitas ini dihidupi dalam ketegangan dan rekonsiliasi yang sering terjadi, sebuah fenomena yang bisa ditemukan dimana saja ketika ada mayoritas dan minoritas. Dalam konteks gereja-gereja di Indonesia, hal seperti ini pun seringkali terjadi. Ketegangan intrareligius di level praktikal adalah tantangan gereja yang cukup serius bagi ekumenisme. Bahkan, dalam hal tertentu dapat dikatakan bahwa seringkali “intereligious dialogue” lebih mudah dilakukan daripada “intrareligious dialogue”. Namun begitu, ketegangan yang terjadi di sana, menurutnya, sering diatasi dengan cara sederhana, yakni ”sitting on the same tabel and start talking”. Cara ini diawali dengan mekanisme koordinasi lintas elit gereja yang akhirnya membawa mereka pada “sharing idea”. Inisiatif yang dimulai di level institusional ini, menurut saya, bisa menjadi sebuah pelajaran penting bagi gereja-gereja di Indonesia yang terus berjuang atas nama oikumene yang sering berada dalam ritme tensi yang bergerak secara up-down. Keterbukaan lintas-denominasional yang diinisiatif oleh para elit gereja disadari atau tidak memberi dampak yang signifikan bagi gerakan ekumenis di level jemaat lokal. 

Hal lain yang disampaikan olehnya, bahwa membangun jaringan adalah salah satu penting dalam bergereja, “we do believe in networking and cooperation”, demikian ungkapannya. Networking tidak sekedar merupakan strategi kooperatif atau kebutuhan institusi, tapi juga sebagai sesuatu yang bersifat teologis. 

Percakapan ini juga menjadi menarik ketika Steve, relawan muda asal USA (tengah) berbagi cerita tentang pengalaman dan interest-nya dengan isu migrasi di timur tengah dan berbagai wilayah konflik lainnya. Percakapan ini kemudian berakhir dengan bagaimana membangun networking lintas denominasi dan bersifat internasional. 

Mari berjejaring!

Eirene Humin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar