Total Tayangan Halaman

Minggu, 23 Oktober 2011

Sejenak Menengadah ke “Belakang" supaya Selamat di “Depan”

Suatu Refleksi Pribadi; Mengenang peristiwa jatuh-bangkitnya Waiselaka Manise

...teruntuk semua anak-cucu Waai dimana saja berada....


Merangkai Sejarah itu kembali!

Masih begitu kental sejarah kelam itu di pikiran saya, dan mungkin juga tak akan pernah hilang dari memory orang-orang yang pernah menyaksikan, mendengar, dan mengalaminya secara langsung. Tapi, jika ada yang sudah lupa, saya mau bilang tengoklah sejarah itu dan simpan baik-baik di alam ingatanmu, atau jika ada yang pura-pura lupa saya juga mau bilang, sadarlah sebelum ingatan anda benar-benar didisfungsikan. Saya masih ingat, saat itu usia saya 12 tahun ketika konflik kemanusiaan pecah pada tanggal 19 Januari 1999 itu terus merebak dan menyebar dengan cepat ke seantero negeri raja-raja bagaikan cara kerja virus pada program komputer. Waai sebagai bagian dari wilayah rusuh, Ambon, akhirnya tak bisa hengkang dari pengaruh konflik itu. Maka, tepat pada tanggal 06 Juli 2000 konflik yang dilegitimasi sebagai konflik agama pun terjadi di negeri tercinta, Hunimua Risinai WaitutuItu Labuhan Saheut.

Hari itu, kamis harinya. Namun, kamis itu tak seperti kamis dan hari-hari sebelumnya, dan mungkin itu menjadi “kamis kelam” bagi saya dan juga bagi semua saudara-saudara saya di Waai, Ambon. Tapi, sebagai bocah saat itu, tidak dengan segera saya melihat adanya perbedaan itu. Saya merasa biasa saja, harus bangun pagi untuk mempersiapkan diri ke sekolah (maklumlah sekolah SMP saya berada di wilayah Naang dan jaraknya sekitar 1 km dan karena itu harus ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 20-30 menit). Namun, apa yang saya anggap biasa itu harus berubah menjadi sesuatu yang luar biasa ketika mama membawa berita, “katong dapa serang” (kita diserang). Sebagai bocah ingusan, ekspresi yang nampak tidak lain ialah panik, menangis, ketakutan yang berlebihan, dan sangat histeris. Benar-benar emosionalitas keanakanku meluap saat kabar tak enak itu mampir di telinga saya.

“Mengapa ini terjadi?” adalah pertanyaan yang terus-menerus terngiang di kepalaku saat itu, bercampur dengan beragam logika dan emosi yang tak sedap. Tak ada satu pun jawaban yang saya dapat dan bahkan tak punya waktu untuk berpikir sebab bom dan mortir terus menghantam dan peluru senapan terus menghujan dan membabi-buta. Tepat jam enam pagi kala itu bom pertama berbunyi sebagai tanda perang sudah dimulai. Tak ada pilihan lain selain melarikan diri ke hutan. Ini menjadi satu-satunya pilihan alternatif, sebab secara geografis Waai berada di antara kedua komunitas yang berkonflik dengannya. Di sebelah Timur ada desa Liang dan di Barat ada desa Tulehu. Sementara di Selatan ada lautan. Hanya Utara yang memberi kemungkinan untuk berlindung diri sekalipun harus menerobosi lebatnya hutan rimba, tingginya gunung dan perbukitan, curamnya lembah dan jurang. Sebelum mengamankan diri ke hutan, saya masih ingat ketika harus disuruh mama untuk membeli bekal ke satu-satunya kios yang berjualan di daerah dusun Tasoi (saat itu papa sedang ikut berperang dan sebagai kakak tertua dari ketiga adik perempuan, saya bertanggungjawab untuk membeli bahan makanan itu). Jika dibolehkan untuk menggunakan kata seru kaum Muslim, mungkin ekspresi saya ialah, “Astafirulahalazim!!!”. Langkah saya terhenti dengan tiba-tiba dan tidak berani bergegas maju sebab rentetan peluru secepat kilat menyambar di depan mata dan hampir memecah gendang telinga saya, sebab jaraknya yang hanya beberapa meter dari tempat dimana saya berdiri. Hampir secepat peluru-peluru kesasar tadi, saya kemudian berlari ke arah rumah dan langsung mengambil rute hutan dengan hanya membawa tas sekolah berwarna merah tua yang cuman berisi Alkitab dan beberapa buku catatan sekolah.

Musuh terus bergerak maju. Satu demi satu rumah telah habis dilalap si jago merah, dan seketika itu pula langit yang harusnya cerah kini diwarnai merah pekat. Dengan langkah yang tertatih-tatih sambil mencucurkan air mata, bersama dengan semua warga kami pun berjalan menelusuri lorong-lorong sempit yang diapit semak belukar itu. Tak ada satupun suara burung berkicau pagi itu, yang saya dengar hanyalah desahan nafas tangisan mama, adik-adik saya, dan sekelompok warga lainnya yang berjalan sambil mengkidungkan pujian tanda penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Dua lagu yang masih saya ingat ialah , KJ. No. 453 “Yesus Kawan Yang Sejati”, dan satu lagi dari Nyanyian Rohani yang berjudul “Laskar Kristen Maju”.

Saat mentari mulai meninggi, pada pukul dua belas siang itu, ada berita tersiar kalau negeri pun telah jatuh ke tanah. Banyak jiwa melayang dan tubuh menjerit kesakitan akibat terkena tembakan. Keruntuhan Gereja, tempat saya bersekolah minggu, belajar tentang kasih dan damai, menjadi simbol kemenangan musuh. Ratusan bom dan mortir menghantamnya dari berbagai arah mata angin. Tak ada satu pun warga dari lima ribu lebih penduduk yang bertahan di wilayah perkampungan. Semuanya kini melanjutkan hidupnya dengan tinggal di bawah pepohonan besar, tidur beralaskan dedaunan, berselimutkan angin malam, dan yang lebih parahnya lagi kulit-kulit terasa ditikam saat hujan deras mengguyur bumi malam itu. Apa mau dikata, begitulah hidup yang harus dijalani. Siapa yang sepenuhnya bersalah? Benarkah musuh? Ataukah Tuhan? Ataukah provokator dan oknum yang mencari keuntungtan di balik semua ini? Ataukah justru kita?

Seminggu lamanya kita bertahan di hutan hingga akhirnya boleh turun ke negeri. Bagaimana pun, hati tersayat pilu ketika melihat istana kecilku, tempat dimana saya bertumbuh dalam tawa dan tangis, kini tak lebih dari reruntuhan. Namun, apa boleh buat, hati yang menangis pun tak akan pernah dapat mengubah keadaan. Yang harus dilakukan ialah menerima kenyatan itu apa adanya. Semangat itu yang lalu membentuk keyakinan iman saya sebagai seorang remaja kala itu, bahwa semua boleh hancur namun iman saya tak harus tumbang. Semua boleh berakhir, namun kasih Tuhan tidak pernah akan berakhir. Itu juga yang dipesankan mama.

Beberapa hari kemudian terdengar berita bahwa kapal perang milik TNI AL telah merapat di labuhan (pantai) untuk mengangkut warga mengungsi ke wilayah Kristen yang aman. Desa Passo menjadi tempat tujuan evakuasi itu. Ada banyak pro dan kontra yang terjadi karena berbagai pertimbangan. Yang pro menganggap bahwa situasi tidak lagi menjamin dan memungkinkan untuk bertahan, sementara di pihak lain yang kontra menyakini bahwa tidak akan ada lagi penyerangan susulan, toh tujuan musuh sudah tercapai. Sebetulnya, alasan lain juga ialah masalah psikologis; hati mereka tidak membiarkan mereka untuk meninggalkan negeri yang hancur itu. Akhirnya, yang pro saja yang kemudian dievakuasi bersama dengan salah satu pempinan jemaat Waai, Pdt. A. J. Jambormias, yang berjuang bagi fasilitas evakuasi itu. Saya dan keluarga saya, kecuali papa, termasuk dalam rombongan yang dievakuasi ini. Sementara hampir sebagian besar warga lainnya yang tetap memilih tinggal di hutan. Selain itu, ada juga beberapa warga yang menggunakan transportasi laut lainnya untuk proses evakuasi.

Tak disangka, tak diduga! Tanggal 31 Agustus, beberapa hari setelah evakuasi, terjadi penyerangan susulan. Kini target penyerangan bukan lagi perkampungan yang sudah hancur, melainkan hutan untuk memburu jiwa-jiwa yang tersisa. Apa dan siapa saja yang ditemui dalam penyerangan itu dibabat habis-habisan, termasuk tanaman yang tak bersalah. Melihat hutan tak lagi dapat menjadi tempat yang aman, maka dengan berani di bawah pimpinan Pdt. D. Akywen warga bergerak melintasi kawasan hutan desa Tulehu untuk menyeberang ke desa Suli, salah satu desa Kristen di kecamatan Salahutu. Perjalanan semacam itu normalnya dicapai dalam waktu tempuh satu malam, namun perjalanan kali itu memakan waktu empat hari bahkan seminggu lamanya. Dengan tubuh yang hanya ditutupi sehelai baju, sekalipun basah-kering, perjalanan itu tetap berlanjut. Alas kaki pun tak ada. Tubuh-tubuh mulai lemah sebab makanan tak bisa dijangkau. Minum pun hanya menunggu air hujan. Apapun keadaanya, perjalanan tetap berlanjut hingga suatu malam mereka mengalami suatu hal yang sangat luar biasa.

Pada satu malam dalam perjalanan itu ketika rombongan mendapati jalan buntu, maka berdoalah Ibu Ane, begitulah sapaan akrab Pdt. D. Akywen. Saat doa berlangsung di malam yang gelap itu, tiba-tiba suatu cahaya yang besar dan bersinar terang melebihi sinar mentari, menyelimuti rombongan itu. Mereka pun membuka mata dan menyaksikan betapa sinar warna putih itu sangat berkilau. Kemudian, dari arah sinar itu ada suara yang lantang berkata, “Hai umatKu, berjalanlah terus. Aku menyertai kamu dan telah menyediakan tempat bagimu”. Semua orang yang ada saat itu, dan saya juga yang tidak merupakan bagian dari kelompok itu, meyakini bahwa itulah suara Tuhan yang setia menyertai umatNya. Dalam jaminan janji penyertaan Tuhan itulah, maka umat mendapat kekuatan baru untuk meneruskan perjalanan hingga akhirnya tiba di Wayari, Desa Suli dan ditampung sementara di gedung gereja Gideon sebelum akhirnya dievakuasi ke Passo di Rimba Raya, yang telah ditempati oleh rombongan awal yang tiba dengan kapal TNI AL.

Inikah akhir dari semua derita itu? Nampaknnya tidak! Keluar dari “Hutan Rimba” umat harus masuk lagi “Rimba Raya”, Gedung Penyimpanan Kopra. Ini menjadi awal fase yang baru dimana umat memasuki pergumulan penderitaan yang panjang. Ketika pertama kali menginjakan kaki di Rimba Raya, saya pikir saya dapat tidur dengan nyaman lagi. Jika di hutan saya beralaskan dedaunan, mungkin disini saya bisa dapat kasur, ya sekalipun tidak sama dengan yang pernah ada di rumah dulu. Namun, ternyata semua itu tak seperti yang saya harapkan. Sebagai gudang penyimpanan kopra, alas badan yang tersedia tidak lain ialah kayu-kayu yang dipaku segi empat kira-kira berukuran 2x3 meter yang merupakan pengalas timbunan kopra. Bagaimana dengan makanan? Pertama kali tiba, saya bersyukur sebab atas itikad baik warga Passo, kita dijamu dengan bubur dan indomie. Lambat laun, ada berbagai sumbangan baik sandang dan pangan yang datang dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. Syukurlah ini cukup membantu di saat-saat awal itu sekalipun ada banyak kasus menunjukan terjadinya ketidakadilan akibat sistem pembagian yang tidak adil dan tidak merata serta penyakit nepotisme yang diidap oleh orang-orang yang dipercayakan untuk mengaturnya.

Hari demi hari berlalu, umat terus bergelut dengan situasi hidup yang sangat menyulitkan. Belum lagi lingkungan tempat penampungan yang tidak sehat sebab jumlah kapasitas penghuni yang semakin banyak dengan persediaan fasilitas publik seperti MCK dan sumber air bersih yang sangat terbatas. Saya ingat bahwa karena faktor ini sebagian besar warga, termasuk saya (hehehe…), lebih memilih untuk membuang air besar di pantai atau sungai di sekitar lokasi pengungsian. Memang ini bentuk perilaku yang tidak pro-ekologi, namun apa boleh buat, mungkin itu cara alternatif saat itu. Masalahnya tidak hanya sesederhana itu, persoalan yang paling memberatkan ialah menyangkut ekonomi. Tiada hari yang berlalu tanpa memikirkan bagaimana bisa bertahan hidup di tengah situasi semacam itu, sebab kebutuhan semakin hari semakin meningkat ditambah lagi dengan mandegnya bantuan. Lapangan pekerjaan sudah semakin sulit diperoleh, bukan hanya karena banyak perusahaan yang ditutup tapi juga karena faktor keterbatasan sumber daya manusia serta ketrampilan profesi awal sebagai petani dan nelayan tidak memungkinkan untuk diberdayakan karena tidak ada lahan dan fasilitas penangkapan ikan yang memadai. Mau tak mau banyak yang harus beralih profesi. Kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat menuntut banyak orang tua yang harus beradu nasib sebagai tukang becak, papalele, tukang ojek, sopir angkutan umum, buruh pelabuhan, kondektur mobil, wirausaha, pembuat batako, dsb.; serangkaian profesi yang awalnya samasekali asing karena faktor ketrampilan dan mungkin juga karena prestise. Peralihan profesi ini pun tidak serta-merta menjamin penghasilan akan meningkat, sebab mereka harus berjuang dengan berhadapan dengan berbagai komunitas pengungsi lainnya yang mengadu nasib yang sama, dan ditambah lagi dengan perilaku masyarakat pribumi yang sudah mulai kurang empati terhadap keadaan pengungsi. Misalnya saja, untuk berjualan di Pasar, ibu-ibu papalele tidak diberikan kebebasan sepenuhnya untuk mendapatkan tempat jualan yang strategis bahkan sering diusir dengan hantaman kata-kata yang menyedihkan.

Ketidakadilan yang dialami umat Waai karena perilaku penduduk pribumi itu tak hanya terjadi di area publik, namun menerawang masuk ke wilayah kamp-kamp pengungsian ketika konflik inter-personal merebak menjadi konflik komunitas antar segelintir masyarakat Passo dengan masyarakat Waai di wilayah penampungan Rimba Raya. Ini mengakibatkan pastori gereja dihancurkan massa, seluruh aktifitas ekonomi di luar wilayah pengungsian terhenti selama beberapa minggu, serta aktifitas sekolah terutama SMP pun harus diliburkan (karena tidak tersedianya bangunan untuk SMP I Salahutu, maka aktifitas sekolah berlangsung di SMP N 13 Ambon – Negeri Lama, Passo Indah). Saat itu, lokasi kamp penampungan terbagi dalam dua wilayah. Di samping Rimba Raya, ada juga kamp (barak) yang didirikan oleh lembaga sosial masyarakat MSF, sehingga kamp itu dinamai kamp MSF. Pecahnya konflik itu tidak hanya menutup ruang gerak masyarakat yang ada di lokasi Rimba Raya, namun juga berdampak pada sebagian masyarakat yang tinggal di kamp MSF.

Memasuki tahun ketiga berada di pengungsian, situasi Ambon sudah mulai kondusif. Ini memberi efek jerah bagi kemungkinan pemulangan pengungsi ke wilayah asalnya. Atas pemerintahan Sinyo Sarundajang yang menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur Maluku, maka ada inisiatif untuk melakukan pertemuan tokoh-tokoh masyarakat pengungsi guna membicarakan proses pemulangan kembali. Sungguh tidak disangka ternyata Waai mendapat prioritas utama dan yang masuk dalam daftar antrian pertama pengungsi yang akan dipulangkan. Maka dalam persiapan hanya beberapa bulan, tepat pada tanggal 25 Oktober 2003 seluruh masyarakat Waai di Rimba Raya, kamp MSF, kamp Pemda, bahkan dari seluruh penjuru di pulau Ambon secara serentak pulang kembali ke tanah air Waiselaka dengan dipimpin oleh kedua tokoh agama dan seluruh staf pemerintah desa yang kala itu dijabat sementara oleh Bpk. E. Ririhatuella. Maka dengan tuntunan Tuhan, umat Waai kembali lagi memasuki dan menempati tanah leluhur setelah tiga tahun delapan bulan sembilan hari lamanya hidup di pengungsian.

Bukan Sejarah Bisu – Mari Berefleksi!

Sekembalinya masyarakat Waai, maka orang-orang mulai berkonsentrasi untuk kembali membangun kehidupan mulai dari titik nol. Pembangunan ini terutama terfokus pada aspek fisik yakni infrastruktur tempat tinggal, sekolah, dan gereja. Pembangunan ini turut ditopang oleh pemerintah, paguyuban-paguyuban anak negeri di berbagai wilayah Indonesia dan juga di Belanda, bahkan oleh swadaya masyarakat sendiri hingga akhirnya seperti sekarang ini. Saya cukup kagum ketika melihat tidak ada satu pun bangunan rumah paramanen dari ujung Barat (Naang) ke Timur (Pantai Hope) yang berwajah klasik dengan terbuat dari bahan-bahan tradisional seperti papan dan daun sagu seperti masa-masa pra-konflik. Semua bangunan rumah terbuat dari beton, berukuran lebih dari ukuran yang dibantu pemerintah, dan bahkan ala gaya rumah minimalis modern. Bukan hanya itu, kehidupan ekonomi pun berangsur pulih. Sumber daya alam di hutan dan lautan kembali memberi hasil yang melimpah sehingga menopang kehidupan ekonomi masyarakat. Dari aspek pendidikan, banyak anak-anak yang dapat mengecap pendidikan hingga perguruan tinggi dengan level strata dua (Magister), baik di dalam ataupun luar wilayah Ambon. Dari sisi administrasi publik, telah terbentuk pemerintahan yang defenitif sehingga memperlancar sistem kemasyarakatan desa.

Sejalan dengan perkembangan zaman, perubahan tidak hanya terjadi pada aspek-aspek sebagaimana yang telah disebutkan itu saja, namun juga mempengaruhi dinamika kehidupan masyarakat. Namun, arah dinamika ini menuju pada hal-hal yang sifatnya destruktif. Perkembangan IPTEKS turut membentuk cara hidup masyarakat yang semula bersifat homogen telah perlahan-lahan bergerak menjadi heterogen, sistem kekerabatan yang awalnya diikat oleh rasa kekeluargaan mulai luntur, pola relasi dan komunikasi yang mengedepankan penghormatan mulai hilang, sikap hedonisme, materialisme, dan konsumerisme yang berlebihan, bahkan persaingan-persaingan yang tidak sehat mulai ditunjukan.

Pertanyaan yang sedikit lebih etis-teologis sekarang ialah, bagaimana dengan kehidupan spiritualitas umat? Memang bahwa tidak ada ukuran untuk menakar tingkat spiritualitas seseorang, namun pertanyaan ini mendorong kita untuk melakukan penilaian evaluatif untuk melihat pada posisi mana kehidupan iman kita. Apakah kehidupan kita telah menjadi kehidupan yang mengalami transformasi dan pertobatan ataukah justru sebaliknya masih tetap serupa dengan kehidupan pra-konflik yang karenanya kita ditegur oleh Tuhan? Pada konteks ini, saya ingin kembali memberi jawaban atas pertanyaan yang diajukan ketika konflik itu pecah, siapa yang salah? Banyak jawaban atas pertanyaan ini. Banyak yang bilang kalau kelompok perusuhlah yang harus bertanggung jawab untuk konflik yang dulu terjadi. Ada juga yang bilang, ini permainan para elit politik di tingkat nasional demi mendapatkan keuntungan-keuntungan tersendiri sebagaimana yang digambarkan dalam novel yang baru-baru ini dirilis oleh Ratna Saroempaet dengan judul “Maluku Kobaran Cintaku” yang menggambarkan adanya motif politik di balik konflik Ambon. Saya tidak menolak asumsi-asumsi ini, namun tak sepenuhnya juga menerimanya. Saya juga tidak ingin membahasnya disini karena saya punya sudut pandang lain terhadapnya. Dari sisi teologis saya melihat bahwa semua itu terjadi bukan secara kebetulan atau pun terencana oleh manusia, melainkan ada dalam skenario Allah yang mulai gerah dengan kehidupan spiritualitas umat saat itu yang mengalami degradasi. Dalam menanggapi pertanyaan bagaimana kehidupan spiritualitas umat pasca-konflik, saya tidak berani memberi penilaian final, namun saya akan mencoba memaparkan berbagai realitas kehidupan yang dari sini kita dapat berangkat untuk melakukan evaluasi kolektif yang mengarah kepada perubahan yang lebih baik.

Ada banyak indikator praksis yang secara transparan memperlihatkan bahwa kehidupan spiritualitas umat sama sekali tidak mengalami perubahan pasca-konflik, justeru sebaliknya mengambil gerak mundur sebagaimana kehidupan di periode pra-konflik bahkan lebih buruk dari padanya; suami-suami yang bertangan ringan pada istri-istri (KDRT), selera gossip para ibu yang tinggi, persaingan materi, tetangga bangkit melawan tetangga, kata-kata makian dan sumpah serapah yang dengan entengnya diucapkan orang tua terhadap anak dan sebaliknya anak terhadap orang tua, pusat transaksi jual-beli minuman keras dimana-mana (berdasarkan survey kecamatan, Waai merupakan produsen MIRAS terbesar di kawasan Salahutu), penyakit judi yang menjangkit dan mengambil tempat hingga ke area publik (dari domino sampai kupon putih), tawuran pemuda yang mengganggu kamtibmas, maraknya aksi pencurian (kami salah satu korban), bertahannya praktek penyembahan berhala (suanggi, tiop-tiop, dll), meluapnya skandal seksual dan NARKOBA di kalangan pemuda, dan menurunnya tingkat partisipasi umat dalam aktifitas pelayanan berjemaat. Semua ini ialah fenomena yang saat ini sedang terjadi.

Rekonstruksi sejarah konflik tidak hanya bertujuan untuk memperoleh rekaman tertulis sehingga dapat dibaca oleh semua orang-orang Waai dan karenanya menjadi sejarah yang bisu. Catatan sejarah itu memiliki fungsi utama untuk berbicara kembali kepada seluruh umat, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, kecil dan besar, miskin dan kaya, bahwa karena degradasi spiritualitas semacam fakta di ataslah yang telah menunggangbalikan Waai hingga jatuh ke tanah dan yang membawa kita ke dalam rimba derita; dari hutan rimba ke rimba raya. Oleh karena itu, pengenangan akan sejarah itu mesti menuntut kita untuk melakukan self-criticism (kritik diri), supaya dengannya kita membangun kembali kehidupan spiritualitas yang lebih baik sebagai buah dari pertobatan hidup.

Jika besok, 25 Oktober 2011, semua orang di Waai berkumpul untuk mensyukuri sejarah penyelamatan Tuhan di masa lalu, maka kita pun harus siap menciptakan sejarah baru bersama Tuhan di masa depan, dan sejarah itu bukanlah sejarah yang dipenuhi dengan air mata, maut, perkabungan, ratap tangis, dukacita (Why. 21:4), namun sejarah yang dipenuhi dengan keselamatan yang dari Tuhan. Sejarah itu bukan juga sama dengan sejarah Waai “hari ini” atau “hari kemarin” namun sejarah “hari esok” yang lebih baik, sebab today must better than yesterday, and tomorrow must better than today (hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini). Jika yang terjadi ialah tidak ada perbedaan antara ketiganya, maka bukan tidak mungkin akan ada lagi satu sejarah kelam yang siap dicatat dalam sejarah negeri anak-cucu Paumeta dan Isamete – Hunimua Risinai Waitutu Itu Labuhan Saheut.

Salam hangat!

Pojok Kusbini XII, Yogyakarta, 24 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar