Total Tayangan Halaman

Selasa, 06 Oktober 2015

Saat "bernyanyi" melampaui sekedar kompetisi, lalu menjadi "narasi damai": Coretan pinggiran tentang Pesparawi 2015 di Ambon.

Perhelatan akbar Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi XI) sedang berlangsung di Ambon, Maluku. Event tahunan yang membawa kurang lebih 8000 peserta lintas kategori usia itu akan digelar dari tanggal 2-12 Oktober mendatang di kota yang dijuluki "the city of music" ini. Bagi kebanyakan orang Maluku, ini ialah sebuah kehormatan yang diberikan oleh bangsa ini, tapi juga sebagai peluang untuk tampil dan membuktikan bahwa Maluku, terutama Ambon, bukan sekedar tempat hidup bagi orang yang  pandai bernyanyi dengan nada dan melodi, tapi juga bernyanyi dalam damai sebagai lagu kehidupan. Sebagaimana juga merupakan kesempatan untuk membuktikan bahwa Ambon dari dulu selalu manis dan akan terus manis seperti sekarang. Bahwa Ambon Manise!

Pelaksanaan kompetisi musik gerejawi ini dijiwai dengan tema "Sungguh Alangkah Baik dan Indahnya Hidup Dalam Persaudaraan Yang Rukun".   Usungan tema ini tentu saja dipengaruhi oleh pembacaan terhadap teks Alkitab yaitu Mazmur 133:1-3 yang mempromosikan bagaimana kehidupan yang rukun mampu menciptakan kebaikan dan keindahan. Teks ini tentu memiliki konteks tersendiri dimana kerukunan atau perdamaian ialah isu utama dan kebutuhan yang mendesak ketika penulis itu tampil. Pengusungan itu mengindikasikan bahwa tema ini sangat Alkitabiah atau sangat Kristiani, sebagaimana anggapan bahwa esensi dari Pesparawi ialah bersifat Kristiani.

Formulasi tema tersebut jelas mengandung pesan, tawaran, dan sekaligus ajakan kepada semua komponen bangsa ini. Sebagai pesan, tema ini mengingatkan bahwa "persaudaraan yang rukun" atau dalam filosofi hidup orang Maluku disebut "hidup orang Basudara, potong di kuku rasa di daging" (hidup orang bersaudara jika kuku dipotong daging pun akan terasa) pada dasarnya ialah kebaikan dan keindahan sejati. Tidak ada kebaikan atau keindahan yang lebih dari hidup berdamai dengan sesama. 

Kesejajaran antara ide penulis Mazmur dengan filosofi hidup orang Maluku itu dipertegas dalam rumusan tematis Pesparawi kali ini. Jika kita sepakat mengatakan bahwa konsep "persaudaraan yang rukun" sebagai ide dasar Mazmur 133 menjadi setara dengan filosofi persaudaraan orang Maluku tadi (hidup orang Basudara, potong di kuku rasa di daging), maka tema ini sebetulnya melampaui dimensi Kristiani dan bergerak memasuki dimensi "kemalukuan". Dalam kemalukuan inilah perbedaan bisa ditemukan dan dalam perbedaan itulah setiap orang dianggap sebagai "sesama Basudara". Artinya, bahwa bahwa tema ini ialah padanan antara dimensi teologi Kristen dan filsafat kemalukuan. Oleh karena itu, Pesparawi Ambon mesti dilihat bukan lagi sekedar proyek gereja atau kegiatan yang bersifat gerejawi, melainkan proyek kemanusiaan yang mempromosikan hidup bersama dengan "sang liyan" (the others) dalam perdamaian. Nampaknya, pesan ini mulai menyerang sendi-sendi kesadaran segenap orang Maluku.

Pesparawi kali ini juga menawarkan sesuatu bagi bangsa Indonesia yang terus diancam dengan disharmoni dan konflik antar golongan. Hidup persaudaraan di Indonesia sekarang ini nampaknya bersifat semu. Oleh karena itu, di tengah konteks seperti ini Pesparawi ini menawarkan sebuah opsi lain, yakni opsi "hidup rukun" atau "hidup orang Basudara". Hidup yang rukun atau hidup orang Basudara itu bisa tercipta jika semua orang mau berjumpa dengan sesamanya yang berbeda dan dalam perjumpaan itu mereka mampu mengelola perbedaan sebagai kekuatan atau potensi membangun harmoni, seperti kata Presiden Jokowi pada pembukaan kegiatan ini; "Kita lahir dari rahim yang sama. Kita lahir dengan wajah yang berbeda sama seperti paduan suara yang hadir dengan jenis sopran, alto, bass dan tenor. Namun, apabila itu dibawakan, bergerak bersama maka akan menciptakan harmoni yang indah. Jadilah seperti itu di Indonesia".

Jika Pesparawi ini menjadi arena berjumpa untuk menciptakan persaudaraan yang rukun, maka Pesparawi ini telah bergerak melampaui sekedar kompetisi tarik suara, menjadi sebuah momentum dimana gagasan rukun dan damai terus dikumandangkan lewat nada dan syair. Pesparawi sebagai narasi damai Indonesia di Maluku! 

Keterlibatan semua pihak untuk menyukseskan kegiatan ini, termasuk dari saudara-saudari Muslim Ambon, nampaknya menjadi bentuk kongkrit dari upaya menerjemahkan tema tadi ke dalam konteks nyata. Beberapa media menyiarkan bagaimana komunitas Muslim Ambon menyambut para peserta yang datang dari 34 provinsi di Indonesia. Bukan hanya itu, mereka pun bersedia menjadi tuan dan nyonya rumah bagi peserta yang beragama Kristen itu. Ini ialah sesuatu yang dalam konteks Ambon harus dilihat sebagai progres dalam proyek perdamaian. Sebagaimana diketahui, Ambon pernah menjadi lahan konflik antara dua komunitas Basudara - Salam (Muslim) dan Sarane (Kristen). Konflik itu telah mengukir serangkaian pengalaman pahit yang sulit dihilangkan dari kesadaran kolektif masyarakat. Dan salah satu dampak konflik itu ialah segregasi demografis atau geografis (segregated by abide) yang bisa saja melahirkan segregasi cara pandang (segregated by mind). Upaya mengatasi kesenjangan ini tentu cukup sulit, namun kehadiran Pesparawi di Ambon telah ikut berpartisipasi setidaknya untuk memperlebar ruang perjumpaan, dari sekedar di ruang publik ke ruang privat- dari lapangan Merdeka (Centre point di Ambon) atau pasar Mardika ke "dapur" dan "kamar" Basudara Muslim Ambon. 

Perjumpaan itu tentu akan memungkinkan orang belajar tentang sang liyan dari sang liyan itu sendiri. Perjumpaan itu juga tak hanya memungkinkan orang saling belajar tentang agama yang berbeda, tapi juga belajar tentang kultur atau budaya yang berbeda. Perjumpaan itu memungkinkan Indonesia memahami totalitas hidup orang Maluku dari orang Maluku itu sendiri. Akhirnya, perjumpaan itu bisa menjadi benih dari persaudaraan yang rukun di Indonesia. 

Kemajuan dalam mengelola konflik masa silam menjadi lahan damai masa kini telah membuat Maluku, terutama Ambon, muncul sebagai "laboratorium perdamaian". Oleh karena itu, sudah saatnya Maluku tampil sebagai destinasi untuk orang belajar tentang konflik dan damai, sebab damai yang lahir dari rahim Maluku ialah damai yang pernah berdarah-darah. Artinya, gagasan sosiologis maupun teologis yang muncul di sana benar-benar berdasarkan pengalaman riil yang harus terus dikomunikasikan dalam kehidupan berbangsa, bangsa Indonesia.

Selamat mengumandangkan damai lewat lagu. 






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar