Total Tayangan Halaman

Rabu, 06 Oktober 2010

Ya Tuhan, berilah Hikmat dan Roh-Mu (I Kor.2:6-16)

Saya pernah membaca tulisan seseorang yang mengulas tentang hikmat, dan tulisan ini yang telah turut membentuk pemahaman saya tentang apa itu hikmat. Salah satu pernyataannya yang membuat saya tercengang dan kagum ialah ketika ia mengatakan bahwa orang yang berhikmat adalah orang yang sangat berbeda dengan orang yang jenius, bahkan orang berhikmat ialah orang yang yang paling beruntung di dunia ini. Saya kira ini ungkapan yang tepat dan menarik. Dengan ungkapan ini ia mau menunjukan bahwa hikmat tidak sama dengan kepintaran dan kepandaian. Hikmat itu bukan hanya soal kemampuan intelektual dan bukan sekedar kualitas akademis seseorang. Seorang tidak secara otomatis dapat dikatakan berhikmat hanya ketika ia menyandang gelar Sarjana atau Professor, atau ketika seorang mahasiswa mencapai Indeks Prestasi yang mengagumkan, atau pun ketika seseorang memperoleh jabatan dan kedudukan yang tinggi. Hikmat selalu melebihi semua itu, roh hikmat selalu melampaui kemampuan intelektual seseorang. Inilah yang mestinya menjadi paradigma atau pemahaman yang harus terbangun, sehingga hal-hal seperti prestasi, jabatan/kedudukan, materi/kekayaan, dan status sosial tidak dijadikan indikator/ukuran untuk menentukan status seseorang ‘berhikmat ataukah tidak?’. Oleh karena itu, konsep hikmat tidak dapat dibatasi dalam pengertian yang sempit itu.

Inilah yang mau ditegaskan oleh Paulus dalam teks I Kor.2:6-16 bacaan kita. Dalam teks ini ia mengemukakan tentang “hikmat yang benar”. KBBI memberi defenisi hikmat sebagai “kearifan”, atau “kebajikan”, dan atau “kebijaksanaan”, yang adalah kepandaian menggunakan akal budi dan kecakapan bertindak menghadapi situasi tertentu.

Paulus menyebutkan bahwa hikmat seperti ini bersumber langsung dari Allah dan tidak disediakan oleh penguasa-penguasa dunia ini (6b). Yang Paulus maksudkan dengan penguasa disini ialah para pemikir/filsuf, para raja dunia, dan iblis. Dalam konteks jemaat di Korintus yang sarat dengan aliran-aliran filsafat yang berkembang dengan para filsuf dan ilmuannya yang hebat itu, Paulus tampil dan menyatakan bahwa mereka, dengan kemampuan berpikir dan menalar yang dimiliki, tidak mampu menyediakan ‘hikmat yang benar’, karena hikmat itu hanya berasal dan ditemukan di dalam Allah. Pengetahuan mungkin dapat dicari, tapi hikmat hanya ditemukan di dalam Dia. Hal yang menarik disini ialah ketika Paulus kemudian mengidentifikasi Yesus sebagai wujud hikmat itu (Bd. Ayat 16 & Kol.2:3 dimana disebutkan ‘di dalam Yesus tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan’).

Jika Yesus ialah hikmat itu, maka tentu saja tindakan dan karya Yesus otomatis menjadi buah-buah yang nyata dari hikmat yang benar. Pengajaran dan tindakanNya yang dipenuhi dengan semangat hikmat itu yang telah menghadirkan transformasi atau perubahan di tengah lingkungan komunitasNya yang sarat dengan berbagai persoalan. Bagi saya ini penting, sebab hikmat yang sesungguhnya ialah bagaimana soal apa dampak keputusan dan tindakan nyata kita bagi perubahan yang positif tanpa merugikan siapapun di tengah lingkungan bergereja, berbangsa dan bernegara yang sedang diperhadapkan dengan berbagai krisis kemanusiaan. Ini yang mungkin sudah jarang kita temukan. Sekarang sudah banyak orang yang pintar, sudah muncul banyak ilmuan dengan sederetan gelar yang digandengnya, banyak pemimpin-pemimpin hebat dengan kedudukan dan jabatan yang tinggi, tapi pertanyaannya ialah apakah potensi itu dipergunakan bagi kemanusiaan? Apakah kemampuan yang dimilikinya didayagunakan bagi kepentingan banyak orang sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar? Ataukah justru sebaliknya, kemampuan yang dimilikinya dijadikan sebagai alat untuk mencapai kehendak dirinya dan mengabaikan banyak orang? Apakah kemampuan itu justru dipakai untuk mengekspoitasi hak-hak hidup makluk lain? Hari ini kita belajar dari Yesus “Sang Sumber Hikmat yang Paulus maksudkan”, bahwa hikmat yang sejati adalah tindakan hidup kita yang menghadirkan keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bagi sesama seperti yang pernah Yesus lakukan semasa hidupNya. Dengan hikmat pula kita dapat membedakan berdasarkan penilaian secara benar, tepat dan adil sehingga keputusan kita menghasilkan kedamaian serta keselamatan bagi sesama. Tanpa hikmat, maka setiap aspek kehidupan akan berada dalam kekacauan, ketidakadilan, pertikaian dan penderitan bahkan pula kematian. Karena tanpa hikmat pun, setiap orang akan kehilangan kemampuan untuk membuat pertimbangan yang jujur dan obyektif. Juga tanpa hikmat setiap orang akan mengedepankan hawa-nafsu, keinginan dan kepentingannya sendiri. Sebaliknya, melalui hikmat pula umat manusia berupaya membangun suatu peradaban yang lebih manusiawi. Hikmat menentukan nilai dan kualitas kehidupan.

Memang saat ini sulit sekali orang menemukan hikmat, dan bahkan mengabaikannnya dan berlomba-lomba untuk mencari yang lain; banyak orang pingin jabatan, pingin harta dan kekayaan, pingin popularitas, karena keinginan ini juga orang menghalalkan banyak cara untuk mencapai tujuannya. Inilah tipe orang yang disebut Paulus sebagai mereka yang menganggap hikmat sebagai suatu kebodohan (ayat 14). Tapi Paulus mengingatkan, kita bahwa yang dibutuhkan orang percaya hanyalah hikmat dan kebijaksanaan. Ingatkah kita tentang kisah Salomo Raja yang termashyur itu? tatkala ia diperkenankan untuk mengajukan permintaan kepada Allah, Salomo tidak meminta materi yang bermakna terbatas dan sesaat, tapi ia meminta sesuatu yang sangat substansial dan penting, yakni Hikmat “Kebijaksanaan” atau dalam bahasa Salomo “hati yang paham menimbang perkara”.

Bagi Paulus hikmat itu dapat diterima hanya melalui pekerjaan Roh Kudus (ayat 10). Karena itu tuntunan dan penguasaan Roh Kudus atas kita adalah penting dan menentukan dalam memahami dan menerima hikmat Allah. Hikmat itu akan diterima jika orang memintanya dalam Roh dan kebenaran, tapi juga dalam optimisme dan keyakinan bahwa ia akan menerimanya dari Allah. Dahulu kala, ada seorang anak yang pingin sekali memperoleh hikmat, kemudian ia menemui Socrates, orang yang sangat terkenal karena kebijaksanaannya itu. Anak itu bertanya bagaimana ia memperoleh hikmat itu. Socrates tidak menjawabnya dengan kata-kata, tapi dengan ilustrasi. Maka dibawalah anak itu ke pantai dan terus berjalan memasuki air yang kedalamannya se-dagu anak itu, lalu Socrates memandang anak itu dan tanpa bicara apa-apa ia mendorong anak itu ke dalam air dengan sekuat tenaga. Anak itu meronta-ronta dan tepat sesaat sebelum anak itu kehabisan napas, Socrates melepaskan cengkeramannya. Anak itu segera keluar ke permukaan air dan mengambil napas sebanyak-banyaknya sambil terbatuk- batuk karena air laut yang asin, lalu dengan marah ia bertanya mengapa kamu mencoba membunuhku? Socrates dengan tenang menjawab: "Anakku, ketika kamu sedang di bawah air dan tidak yakin apakah kamu masih bisa hidup lagi, apa yang kamu inginkan melebihi semua yang ada di dunia ini?" Anak itu merenung sebentar lalu menjawab dengan pelan, "Saya hanya ingin bernapas". Socrates tersenyum dengan lebar sambil menatap anak itu dan berkata, "Nah! Saat kamu menginginkan hikmat dan kebijaksanaan sebegitu besarnya seperti kamu ingin bernapas, itulah saatnya dimana kamu akan segera mendapatkannya!". Ini menggambarkan bagi kita, bahwa kita akan menerima hikmat Allah ketika kita punya kerinduan untuk memilikinya, dan memintanya dalam tuntunan Roh.

Mengawali bulan Oktober ini, ada dua moment penting yang kita peringati, yakni peringatan bulan Pekabaran Injil dan juga peringatan Perjamuan Kudus yang telah dilakukan hari ini. Moment ini semestinya menjadi moment evaluasi diri masing-masing orang, baik tua maupun muda, anak atau orang tua, pemimpin ataupun yang dipimpin, pendidik dan yang dididik, pelayan dan warga gereja; apakah hikmattelah menjadi gaya bergereja kita? Apakah itu telah kita wujudkan dalam panggilan pelayanan kita, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan pekerjaan, bahkan lingkungan masyarakat kita yang lebih luas?

Saya pingin mengutip sepenggal doa yang pernah diucapkan oleh seorang ilmuan (teolog), yang bunyinya “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kedamaian, untuk menerima hal-hal yang tidak dapat aku ubah; keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah; dan hikmat untuk mengetahui perbedaannya”.

Selamat Berhikmat !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar