Total Tayangan Halaman

Rabu, 06 Oktober 2010

LSD???

Apa itu Love, Sex & Dating (LSD) menurut iman Kristen?

Pacaran bukan lagi hal yang asing bagi pemuda, bahkan sudah dianggap sebagai lifestyle-nya pemuda. Oleh karena itu yang berpacaran itu yang sering didentik dengan gaul, sebailknya yang tidak kerap dianggap kuper, gak laku-laku, dsb. Apapun status anda saat ini (berpacaran atau tidak), saya menghargainya. Tapi ada beberapa prinsip kristiani yang mesti dipegang jika seorang pemuda Kristen memasuki tahap ini.

Dalam perspektif iman Kristiani, “love, sex and dating” adalah karunia Tuhan yang indah, yang kudus, yang luhur. Ini prinsip utama yang penting supaya olehnya pacaran harus dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab dan dijaga kehormatan dan kekudusannya. Mengapa? Karena ketiga hal ini merupakan salah satu mandat dari Penciptaan Allah; bahwa manusia diciptakan dengan perasaan untuk mencintai dan dicintai, dilengkapi dengan organ seksual yang sempurna untuk tujuan regenerasi ciptaan yang mulia, diberi waktu yang dapat dipergunakan untuk sharing yang berguna (tepatnya pacaran), dsb. Inilah yang menjadi intisari dari perintah Allah untuk beranakcucu dan memenuhi bumi (Kej.1:28); dan proses pewujudkan perintah Allah ini dapat terwujud diawali dari proses pacaran. Karena itu sekali lagi pacaran memiliki dimensi teologis tersendiri yang unik dan utama dari suatu proses yang lebih besar (Pernikahan). Jika seperti itu, maka sekali lagi tahap pacaran mesti dilewati secara maksimal namun tertanggung jawab. Pacaran memang ialah hal yang wajar dan diharuskan, tapi pertanyaannya apakah setiap orang bebas berpacaran? Bagi saya tidak. Tentu saja ada batasan-batasannya. Memang semua orang memiliki hak untuk berada pada etape ini, tapi pada kategori-kategori usia tertentu, dimana orang sudah matang untuk menjadi pribadi yang mandiri dan siap membina kehidupan rumah tangga, Hal ini tidak berarti ada pembatasan hak seseorang untuk berpacaran, namun batasan ini memungkinkan seseorang untuk lebih matang jika sudah ada dalam tahap ini sehingga tidak mudah terguncang dan jatuh. Dari hasil observasi yang dilakukan, kategori usia 12-16 tahun yang berpacaran sudah pernah melakukan seks pra-nikah, dan tidak sedikit dari mereka yang ‘cidera’ atau hamil sehingga ujung-ujungnya juga aborsi karena takut dan terancam putus pendidikan, kena marah orang tua, kena sanksi sosial masyarakat, dsb. Sudah begitu dosa pula. Supaya tidak seperti itu, maka kematangan usia, kematangan psikologis, kematangan berpikir dan mengambil keputusan menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dan bahkan sebagai pra-syarat sebelum memulai suatu hubungan pacaran.

Iman Kristiani tidak hanya membatasi seseorang dalam kategori usia tertentu, tapi juga tidak menghendaki seseorang untuk bebas berpacaran dengan siapa saja, termasuk tidak bebas berpacaran dengan orang yang tidak seiman. Alkitab menyatakan bahwa suatu pasangan Kristen mestilah menjadi pasangan yang sepadan, seimbang, dan yang seiman. "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? " ( 2 Korintus 6:14 ). Hal ini supaya anda yang Kristen tidak digoyahkan imanmu kepada Yesus. tapi jika ada di antara anda yang sudah terlanjut ada di dalam hubungan itu dan benar-benar mencintai orang itu, usahakanlah supaya anda memenangkannya untuk Kristus.

Pacaran dan Cinta merupakan dua hal yang sejalan namun bukan serupa. Pacaran adalah proses dan sekaligus wahana dimana dua orang mencurahkan perasaan philia-nya (cinta) dan karena itu berpacaran bukan otomatis itu bercinta, melainkan cara untuk menemukan cinta yang sejati. Pemahaman terhadap hal ini penting supaya dalam pacaran orang harus semakin lebih selektif untuk memilih dan menentukan apakah seseorang itu tepat dan dapat menjadi tempat dimana perasaan cintanya dicurahkan ataukah tidak.

Masalah pacaran selalu punya hubungan dengan apa yang disebut Seks. Banyak fakta hamil dan aborsi terjadi dalam hubungan pacaran. Untuk menghindari hal ini, pemahaman terhadap seks secara teologis sangat penting,

Apa itu seks? Seks diberikan Tuhan kepada manusia dengan tujuan yang mulia dan salah satunya adalah untuk melakukan perintah Allah berkembang biak dan memenuhi bumi. Tetapi perintah ini hanya boleh dilakukan oleh orang yang berhak yakni orang yang tepat pada waktu yang tepat. Yang dimaksud orang yang tepat adalah pasangan sah kita yaitu suami atau istri yang sah dimata Hukum dan di mata Tuhan. Waktu yang tepat artinya adalah setelah menikah dan disahkan oleh hukum. Bila kita melakukan sebelum waktunya itu artinya kita berzinah dan melanggar kekudusan Tuhan. Jika seperti itu, maka pasti ada konsekwensi; hamil, penyakit kelamin, ganguan psikologis, penyakit yang paling ganas dan belum dapat disembuhkan, dll.

Hubungan seks adalah sesuatu yang unik.bila dilakukan dengan orang yang tepat yaitu suami / istri yang sah pada waktu yang tepat yaitu setelah menikah hal ini tidak berdosa,tetapi bila dilakukan dengan orang yang belum menjadi istri atau suami sekalipun saling mencintai dan belum menikah ini adalah dosa. Tidak ada lasan apapun yang dapat digunakan untuk melakukan seks sebelum menikah mis: saling kenal, uji coba, hanya pingin tahu, tidak melakukan hanya mencoba , dll. Sebagai pemuda Kristen dalam pergaulan ada banyak tantangan dan pengaruh karena itu bila ada sesuatu yang kurang mengerti tanyakan kepada orang tua / hamba Tuhan. Perdalam iman kepada Allah, banyak membaca Firman Tuhan agar tidak salah melanggkah karena akibat yang harus ditanggung seumur hidup. misal: aborsi, tidak perawan, penyakit kelamin, dsb.

Selamat Pacaran Positif..!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar